Tuesday, February 22, 2011

Kisah Sukses Pengusaha Makanan Bayi

Orang tuanya selalu berharap bahwa suatu hari nanti Sally Preston akan menjadi seorang dokter. Tapi saat mulai mempelajari ilmu pengetahuan di level A, dia menyadari bahwa tidak punya peluang untuk mendapatkan nilai yang dibutuhkan. Dia mengatakan: 'Setelah dua minggu berada di level A untuk mempelajari fisika, dari situ tampak jelas bahwa aku tidak bisa memahami apapun di sana.'

Jadi, dia mulai mencari-cari arah lain untuk diikuti dan setelah mendapatkan pengalaman kerja dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli diet, dia memutuskan untuk mengambil gelar di bidang ilmu makanan.

Setelah lulus, dia mendapat pekerjaan di Marks & Spencer dan ditempatkan di departement makanan siap saji. Selama 11 tahun berikutnya dia bekerja sana hingga menjadi seorang senior dibidang teknologi makanan.

Dia tidak pernah merasa benar-benar cocok dengan dunia coorporate. Preston mengatakan: 'Aku adalah orang yang ambisius tapi juga sulit untuk menyesuaikan diri. Pada hari pertama bekerja, aku datang dengan tas timah berwarna pink dan diminta untuk tidak lagi menggunakannya karena tidak cocok dengan lingkungan perusahaan.'

Jadi, ditahun 1999, diusianya yang ke 33 tahun dan dengan dua orang anak yang masih kecil, dia meninggalkan Marks & Spencer untuk membuka jasa konsultasi makanannya sendiri. Akan tetapi, dua bulan kemudian, dia mendapatkan ide besarnnya, yaitu untuk memulai sebuah bisnis yang menjual makanan beku untuk bayi yang disimpan di dalam es sehingga para orang tua bisa menggunakanya sebanyak yang mereka butuhkan.

Dia mengatakan: 'Saat aku mempunyai anak pertama, aku memasak cukup banyak makanan untuknya dan membekukan sisanya di dalam es seperti yang disarankan di dalam majalah. Tapi aku menemukan bahwa secara keseluruhan, prosesnya cukup merepotkan. Saat libur, aku benar-benar ingin menghabiskan waktu untuk bermain dengan anak ku dan bertemu dengan ibu-ibu lainnya, dari pada harus memasak selama berjam-jam, menyaringnya, dan membekukannya di dalam es.'

Tugas untuk memasak ini jadi semakin berat saat dia mempunyai anak kedua. Dia mengatakan: 'Saat aku mempunyai anak yang ke dua, Jack, dia tidak pernah merasakan makanan buatan rumah karena waktu itu aku juga punya balita dan harus kembali bekerja. Aku ingin memberikan makanan yang sehat pada anak-anak ku, tapi aku juga tidak ingin jadi terlalu kerepotan saat melakukannya. Dan kupikir pasti ada sesuatu yang lebih baik untuk bayi dibanding makanan kaleng.'

Akan tetapi, sebelum Preston bisa mulai menjalankan rencana, dunianya terasa hancur. Rumah tangganya berada dalam situasi pertentangan sehingga dia dan anak-anaknya harus pergi dan tinggal disebuah rumah sewaan. Dan empat bulan kemudian, dia diagnosa mempunyai kanker kulit setelah menemukan sebuah tahi lalat di pahanya.

Semua pemikirannya mengenai idenya untuk memulai bisnis jadi hilang saat dia mulai menjalani perawatan dan mencoba menyatukan kembali kehidupannya. Untunglah dua tahun kemudian keadaan mulai tampak menjanjikan. Dia mendapat partner baru dan memutuskan bahwa ide besarnya mungkin cukup berharga untuk dicoba.

Dia mengatakan: 'Ide tersebut sepertinya tampak jelas bagi ku. Tapi aku tidak mengerti kenapa belum pernah ada orang yang melakukannya.'

Partnernya setuju untuk membayar biaya sewa rumah sementara dia memulai bisnis makanan bayinya. Jadi, sejak saat itu, Preston meninggalkan jasa konsultasinya dan mulai mengerjakan bisnisnya.

Dia mengatakan: 'Aku rasa aku tidak rugi apa-apa. Dari hari pertama aku punya ambisi yang sangat besar. Aku memutuskan bahwa aku tidak ingin membuat sendiri produk tersebut dirumah dan mensupply-nya ke toko-toko lokal. Aku ingin membuat sebuah merek sehingga aku bisa menjualnya keseluruh retail dan bisa mendistribusikannya dalam skala nasional.'

Dia mulai membuat berbagai resep di dapurnya untuk bayi yang berusia 4 sampai 12 bulan, berdasarkan makanan yang disukai oleh anak-anaknya. Dia mengatakan: 'Aku memberikan makanan tersebut pada para ibu di gerbang sekolah untuk mencobanya dan mengatakan: "Maukah anda mencoba ini?" Bisnis itu aku jalankan secara tradisional, tidak ada research pasar atau panel konsumen.'

Kemudian dia menemukan sebuah pabrik di Leicester yang setuju untuk membuatkan makanan tersebut untuknya. Sama seperti yang dia bayangkan sebelumnya, makanan tersebut dibekukan di dalam es sehingga para orang tua bisa menggunakan sebanyak atau sesedikit yang mereka butuhkan untuk bayinya.

Tapi sayang, dia tidak cukup beruntung untuk membuat bank mau meminjamkan uang padanya. Dia mengatakan: 'Setiap bank mengatakan bahwa ide tersebut sangat jelas sehingga mereka tidak mengerti kenapa orang belum pernah ada yang melakukannya, dan karena itulah pasti ada alasan kenapa belum ada orang yang mau melakukannya. Tapi menurut ku ide yang paling jelas sekalipun adalah sebuah ide yang bagus dan anda tidak harus malu untuk memanfaatkannya hanya karena ide tersebut sudah sangat jelas. Anda tidak harus mencari dan membuat sesuatu yang baru, semua ide bagus sudah ada di luar sana.'

Jadi, dia menggadaikan kembali rumahnya untuk mendapatkan pinjaman sebanyak £55,000 yang dia perlukan untuk memulai bisnis dari awal, dan menyewa sebuah perusahaan design untuk membuatkan merek bagi produknya. Hasilnya adalah Babylicious dan dalam beberapa minggu saja, supermarket chain Waitrose sudah setuju untuk menstocknya di 27 tokonya, dengan syarat bahwa Preston akan mengirimkan sendiri produknya ke toko-toko tersebut. Tanpa merasa gentar, Preston berjanji untuk membawa sendiri van freezer seberat 1,5 ton.

Tapi sebelum Preston bisa mulai mensupply ke toko-toko, bisnisnya mengalami hambatan utama. Saat dia mencoba untuk mendaftarkan nama merek dagang Babylicious, dia menemukan bahwa seeorang telah mendahuluinya. Dengan ancaman untuk ligitasi yang meningkat, Preston tidak punya pilihan lain selain mengubahnya menjadi Tastylicious. Dia mengatakan: 'Bukan cuma paketnya yang harus kami ubah, tapi semuanya, mulai dari kop surat, website, materi marketing, semuanya.'

Akan tetapi, Preton tidak akan menyerah tanpa melakukan perlawanan. Dia mengatakan: 'Aku tidak siap untuk menerima bahwa secara tiba-tiba ada orang lain, yang entah dari mana, datang dan mengambil ide ku. Itu pasti bukan suatu kebetulan.'

Dia memutuskan untuk melakukan kontest aplikasi dan dalam prosesnya, dia menemukan bahwa itu ternyata telah dilakukan oleh seorang wanita yang dia kenal. Enam bulan kemudian, pengadilan memutuskan bahwa aplikasi dari rivalnya tersebut dibuat dengan niat yang buruk. Preston diijinkan untuk kembali menggunakan nama Babylicious dan mengubah lagi semuanya. Akan tetapi, total biaya yang diperlukan untuk melakukan rebranding adalah sebesar £30,000.

Dan masalah yang masih harus dia hadapi belum juga berakhir. Di tahun 2002, wanita yang sama mulai menghubungi rekan-rekan bisnis Preston dan menyebarkan fitnah mengenai perusahaannya, yang mengatakan bahwa perusahaan tersebut sedang diselidiki.

Preston menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi saat orang-orang mulai membatalkan meeting dan iklan-iklannya. Dia menyeret wanita tersebut ke pengadilan dan berakhir harus membayar £10,000 kepada pengacara sebelum akhirnya membatalkan kasus.

Dia mengatakan: 'Aku di nasehati oleh pengacara ku untuk mengambil hikmah dan mengakhiri semuanya. Itu adalah hal yang sulit untuk dilakukan, tapi aku harus fokus pada bisnis.' Dia akhirnya harus berhutang sebanyak £25,000 pada orang tuanya agar bisa mempertahankan bisnisnya.

Preston juga harus menghadapi perdebatan saat meminta retailer untuk memasang freezers di bagian bayi di setiap toko untuk produknya dan bukan cuma menempatkannya di bagian freezer.

Tapi untunglah, sejak tahun 2003, hal-hal mulai berubah. Babylicious berhasil memenangkan beberapa penghargaan di bidang industri dan banyak menerima publisitas saat pers mengetahui bahwa Victoria Beckham memberikan makanan tersebut pada anaknya, Romeo.

Enam tahun yang lalu, Preston mendapat tambahan modal sebesar £1 juta dari seorang investor dengan imbalan berupa 25 persen kepemilikan saham. Di tahun 2009, Preston meluncurkan snack untuk balita dan menyebutnya Kiddilicious. Produk dari perusahaanya di stock oleh supermarket-supermarket utama termasuk Waitrose, dan pada tahun 2010 mempunyai omzet senilai £4.5 juta.

Berbeda dengan sebagian pengusaha lain, Sally Preston mengatakan bahwa dia cuma punya satu ide untuk memulai bisnis, yaitu ide ini. Dia mengatakan: 'Aku cuma punya ide ini dan melakukannya. Hanya ide ini yang aku punya. Kupikir, aku bisa melakukannya.'

Meski harus mengalami berbagai hambatan selama beberapa tahun terakhir, dia mengatakan bahwa idenya layak untuk diperjuangkan. Dia mengatakan: 'Ini hanyalah sebuah peluang bisnis yang sangat jelas sehingga jika aku tidak melakukannya, maka aku akan menyesal untuk selamanya karena orang lain telah mengambilnya. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukannya. Dan aku ingin jadi penguasa bagi kehidupan ku sendiri. Aku ingin bisa melakukan apapun yang aku inginkan tanpa perlu lebih dulu minta ijin pada orang lain.'

0 comments: